KEKUATAN DOA
![]() |
Inspirasi Ulama | KEKUATAN DOA KH. Kamil Abdullah Jember |
Mobil jemputan telah tiba. Tapi mendadak saya terkena serangan sakit kepala. Terpaksa jadwal keberangkatan sementara tertunda.
Mau mencari 'pemateri pengganti' sudah mepet sekali waktunya. Sedangkan
'forum khusus' Asatidz, Kyai dan Ulama harus tetap terselenggara malam
ini juga…
Dalam situasi 'tak biasa' yang 'entah' harus berbuat
apa…, berdzikir membaca "Shalawat Taysiir" —bagi saya— terasa begitu
istimewa…:
"Allaahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad, wa'alaa aali sayyidinaa Muhammad."
"Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad
Saw, dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad Saw"
"Shalaatan taftahu lii bihaa baabar-ridhaa wat-taysiir."
"Rahmat yang dengannya Engkau bukakan pintu keridhaan dan kemudahan untuk hamba"
"Watughliqu bihaa 'annii baabasy-syarri wat-ta'siir."
Dan dengannya Engkau tutup pintu keburukan dan kesukaran dari hamba
"Watakuunu lii bihaa Waliyyaw-waNashiiraa."
"Serta dengannya Engkau berkenan menjadi Pelindung dan Penolong hamba"
"Ya ni'mal-Maulaa wayaa ni'man-Nashiir."
"Wahai sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong [yang tiada tandingan-Nya"
Saya masih berdzikir tatkala pandangan saya tertuju pada sehelai surban… Pada detik itulah baru terpikir oleh saya:
—"Apakah surban bisa mengatasi pusing kepala…?"—
"BismiLLAAH…"
Surban saya ikatkan beberapa putaran di kepala. Dan dengan tingkat
kekencangan yang bisa diatur sedemikian rupa, ternyata rasa pusing pun
tak lama kemudian berangsur sirna…!!!
Subhaanallaah walhamdulillaah…
'Kendala pertama' terselesaikan dengan pertolongan Allah melalui 'kekuatan doa'…!!!
Kami pun segera berangkat ke tempat acara…
***
Dalam perjalanan, dzikir "Shalawat Taysiir" tetap saya baca. Ia bukan
hanya menenteramkan hati saya, namun juga menumbuhkan optimisme dan
harapan, agar apa yang kita serukan disambut, apa yang kita sampaikan
difahami, apa yang kita tawarkan diterima…:
"Wa'ath-thif quluubal-'aalamiina bi-asrihim 'alayya."
"Dan condongkanlah hati seluruh penghuni alam ini pada hamba"
"Wa-albisnii qabuulan bisyalmahat." *)
"Dan kenakan ('baju') penerimaan pada hamba, dengan (pertolongan) Al-Fattaah ['Sang Maha Pembuka' hati makhluk-Nya"
***
Kami sampai di Aula Pesantren Kyai Haq tepat pada waktunya. Begitu kami masuk, para peserta bergegas memenuhi tempat duduk.
Dari awal penyampaian materi hingga berakhirnya acara, saya tidak menemui kendala. Semua berjalan seperti rencana…
Yang saya saksikan di forum itu adalah kondusifnya suasana…:
Waktu saya memberikan penjelasan, seluruh peserta tampak serius
memperhatikan. Malah tak sedikit dari mereka yang mengangguk-anggukkan
kepala untuk mengiyakan maupun tanda persetujuan…
Saat ritme
pemaparan mulai memuncak dan gelora semangat naik menyeruak, dengan
'komando' takbir menghentak, sontak mereka lantang berteriak, "Allaahu
Akbar…!!!" dengan kompak-serempak…
Demikian pula ketika peserta
saya ajak melantunkan nasyid —"Al-Khilaafah Wa'dullah waBusyraa
Rasuulillah"— mereka sangat menikmati sesi "nyanyi berjama'ah" dengan
antusias dan bergairah…
Terakhir, hasil pengisian angket: 100% peserta setuju dan mendukung perjuangan penerapan Syari'ah dan penegakan Khilafah…
***
Kyai Haq memeluk dan menyalami saya dengan senyum mengembang… Tangan saya digenggam erat dan diguncang-guncang:
"Subhaanallaah, luar biasa Ustadz… Allaahu Akbar…!! Luar biasa…!! Luar
biasa…!! Hebat… Hebat…!" katanya sambil mengeleng-gelengkan kepala.
Saya tersenyum, sedangkan batin saya berkata:
"Alhamdulillaah…, tapi tampaknya Kyai Haq kelewat 'berlebihan' responnya…"
Oleh karena itu saya merasa perlu menjelaskan kepadanya:
"Kyai, ini hal yang sangat wajar… Sejak semula PESERTA forum ini kan harus STANDAR:
--> Setiap peserta —kita duga kuat— cenderung SEPAKAT tanpa 'menawar'…
Sehingga wajar, kalau acara kita berlangsung lancar, tanpa diselingi interupsi 'liar', apalagi aksi penentangan yang 'vulgar'…"
Kyai Haq tertawa:
"Waah… Rupanya Ustadz ini belum tahu ya… Fakta di lapangan berbeda dengan penjelasan Ustadz barusan…"
"Maksud Kyai…?" saya mulai mengendus aroma 'keanehan'…
"Begini Ustadz… Di awal memang saya dan panitia sudah sepakat tentang
standar peserta… Tapi kita 'kebobolan' Ustadz… Banyak orang-orang daerah
sini yang menentang Khilafah, memaksa ikut menghadiri acara dan
'ngotot' masuk ke aula juga… Yach, saya tak kuasa menolaknya, Ustadz…"
"Jadi………??!" Saya bingung mau bilang apa…
"Eee… Oya… Jadi… Komposisi antara…, peserta yang 'diduga kuat'
cenderung sepakat…, dengan penentang Khilafah yang memaksa ikut acara…,
prosentasenya berapa banding berapa…?" tanya saya terbata-bata…
"20 banding 80, Ustadz…" sahut Kyai Haq.
"Ooo… Maksudnya 80% yang 'cenderung' sepakat, ya…?" tanya saya mengonfirmasi fakta.
"Oh, bukan, Ustadz… 80% itu adalah mereka yang selama ini menentang perjuangan kami di sini…!" tukas Kyai Haq.
"Haaaaah…?!!" mulut saya spontan 'menganga', kaget dan benar-benar tak menyangka…
Ternyata 'setelah kendala pertama' sebenarnya sudah menanti
'kendala-kendala berikutnya', tapi Allah berkehendak menyingkirkannya
tanpa tersisa…!!!
"laa haula walaa quwwata illaa biLLAAH…" Sekarang gantian saya yang geleng-geleng kepala…
SubhaanaLLAAH…
Lagi-lagi pertolongan Allah turun melalui 'kekuatan doa'…!!!
Menghadapi 'banyak kendala' yang tak terlihat oleh mata saya, tak
terdeteksi oleh perasaan saya, dan tak terlintas sedikitpun di benak
saya…
80% "penentang" tiba-tiba berbalik "mendukung" dengan
'proses kilat' yang —bagi saya— terlampau 'rumit' dan 'tak jelas'
tahapannya…
***
Dalam perjalanan pulang, saya merenungi
kembali —hal yang samasekali di luar 'keterlibatan' saya— yakni
'kesesuaian' antara 'isi doa' dengan 'kendala' yang ada (namun tak
terjangkau oleh panca indera saya…):
"Wa'ath-thif quluubal-'aalamiina bi-asrihim 'alayya."
"Dan condongkanlah hati seluruh penghuni alam ini pada hamba"
"Wa-albisnii qabuulan bisyalmahat." *)
"Dan kenakan ('baju') penerimaan pada hamba, dengan (pertolongan)
Al-Fattaah ['Sang Maha Pembuka' hati makhluk-Nya"
-----------------
KH. Kamil Abdullah Jember
*) "bisyalmahat" bahasa Suryani,
artinya: "bil-Fattaah".
Blogger Comment
Facebook Comment